Pantai Singkil Indah Karang Pakis

Setelah melihat banyaknya hoax foto pantai Karangpakis, Nusawungu, Cilacap di blog-blog wisata. Saya bermaksud menuliskan secara jujur Pantai Karangpakis Nusawungu Cilacap.

Pantai ini memulai namanya dengan Pantai Singkil Indah Karangpakis  pada tahun + 2000an. Saat itu ada simbolis penanaman pohon singkil, namun tidak bertahan lama, karena pelindung pohon singkil hancur saat terjadi ombak besar, sudah menjadi ciri khas Pantai Selatan, ada masa  ombak besar sesuai musim dan arah angin.

dokumen pribadi
Pantai Singkil Indah Karangpakis

Lokasi pantai ini bisa diakses dari stasiun Sumpiuh dan pegadaian Sumpiuh, bisa menggunakan ojek online maupun ojek pangkalan. Yaitu dari Sumpiuh > Nusawungu proliman Tugu Nusawungu keselatan > Nusawangkal > Karangpakis >Pantai Singkil Indah. Sedangkan dari arah Stasiun Kroya kearah timur > Danasri > Nusawungu proliman Tugu Nusawungu keselatan > Nusawangkal > Karangpakis > Pantai Singkil Indah.

Jalan menuju pantai karangpakis

Pantai Singkil Indah dalulu terkenal dengan tambak udangnya, yang sampai sekarang masih bisa dilihat sisa bangunan dan kolam udang, warga bisa menyebut “Udang galak” juga “gudang galak. Bagunan ini didapati setelah melewati persawahan, disisi sebelah kanan, sekarang terlihat seperti bangunan tua. Ada penarikan karcis di TPR, tapi tenang masuk pantai murah kok, hanya Rp. 5.000. Itu juga kalo musim Badan (hari raya Idul Fitri + libur sekolah) selain waktu itu, gratis. Untuk para penjual hanya berjualan saat hari minggu dan musim liburan, selain hari itu bisa dipastikan tidak ada penjual.

Warga lingkungan pantai ramah, rata-rata berprofesi sebagai tukang nderes, nelayan, dan petani. Kalian akan kerap melihat warga melakukan aktifitas sehari-hari dilingkungan pantai. Fasilitas pantai ada kolam renang, ayunan dan gazebo tempat duduk yang tersebar. Namun kini ayunan sudah rusak, karena tidak ada perawatan dan korosi. Selamat berlibur, semoga bermanfaat.

Kerbau Warga
Advertisements

Dongeng untuk Pendidikan Karakter Anak

Tulisan ini di terbitkan dalam krjogja.com
KOLOM Editor : 
Ivan Aditya Senin, 02 Oktober 2017 / 11:43 WIB

”KAK, pinter dongeng, pasti bisa banyak suara ya? Sayang saya tidak bisa mendongeng, dan saya tidak bisa bersuara aneh-aneh”.. Pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang kerap ditanyakan pada para pendongeng.

Kegiatan mendongeng sebenarnya kegiatan bercerita atau berkisah. Di mana orangtua, pendidik dan pendongeng bebas memilih tema cerita, baik cerita dongeng zaman dahulu ataupun zaman sekarang yang memuat materi atau pesan-pesan mulia dan penuh hikmah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dongeng adalah: cerita yang tidak benar-benar terjadi (terutama tentang kejadian zaman dulu yang aneh-aneh). Contohnya: anak-anak gemar mendengarkan dongeng seribu satu malam, dongeng Sangkuriang, atau dongeng sikancil yang cerdik.

Dalam dunia pendidikan di Indonesia, dongeng termasuk dalam komunikasi persuasif yang disukai anak-anak karena memuat dunia cerita yang menakjubkan dan anak-anak bebas berimajinasi. Sehingga dongeng-dongeng di dunia pendidikan ditekankan pada dongengdongeng yang memuat materi dan pesan moral penuh hikmah, baik pendidikan, sosial, budaya, agama dan karakter. Manfaat dongeng di antaranya: membangun karakter anak, menjadi media pembelajaran anak, menangani situasi dan kondisi pada anak seperti trauma healing. Juga menjadi cerita penguat untuk pembiasaanpembiasaan yang baru dimulai maupun untuk menjaga pembiasaan-pembiasaan yang telah lama dimulai.

Apresiasi Dongeng

Di DIY, kegiatan dongeng banyak diselenggarakan. Ada pelatihan, perlombaan, dan pertunjukan dongeng di sekolah maupun tempat umum. Hal ini menjadi bukti dongeng di Yogyakarta tidak mati suri. Keahlian berdongeng disadari penuh sebagai kebutuhan dan ketrampilan yang dibutuhkan oleh para pendidik, pendongeng, maupun para orangtua untuk menyampaikan materi dan nasihat tanpa menggurui. Sehingga anak-anak menikmati dan memahami materi dan nasihat dengan baik.

Apresiasi dongeng di DIY memunculkan komunitas dongeng, mulai dari Rumah Dongeng Indonesia di Kotagede. Rumah Dongeng Mentari (RDM) di Condongcatur, Depok, Sleman. Terbaru diresmikan 3 September 2017 yaitu Kampung Dongeng, di Baciro. Dan yang berfokus pada kisah-kisah penuh hikmah yaitu Persaudaraan Pencerita Muslim Indonesia (PPMI) di Mantrijeron, Kota Yogyakarta.

Bentuk apresiasi kegiatan dongeng di Yogyakarta, ada ‘PPMI Berkisah’ yang menampilkan para pendongeng dari anggota PPMI baik berasal dari Yogyakarta, Gunungkidul, Bantul, Sleman, Kulonprogo dan daerah lain. ‘Pagelaran Dongeng Jogja’tahun 2016, yang mengalunkan dongeng ditempat wisata Hutan Pinus Sari, Mangunan, juga menampilkan para pendongeng lokal dan pendongeng kota-kota lain. Terbaru apresiasi kegiatan dongeng muncul di Festival Kesenian Yogyakarta 29 dengan mempersembahkan acara ‘menanam cerita di halaman’ menampilkan para pendongeng Yogyakarta di acara dongeng sore, dan workshop dongeng.

Penyajian Dongeng

Setiap anak adalah unik dan istimewa, maka perlakukan anak dengan kehormatan, bukan dengan kekerasan maupun ketakutan. Termasuk dalam menyajikan dongeng, maka sajian dongeng diracik dengan unsur yang pas. Bagaimana menyajikan dongeng dengan mudah?

Menyajikan dongeng pada anak mudah. (1). Orangtua dan pendidik harus mempunyai niat optimis untuk bercerita pada anak. (2). Menyiapkan atau membuat cerita sesuai usia anak dengan tema-tema pilihan sesuai kebutuhan seperti keberanian, kejujuran, kemandirian, inisiatif, pantang menyerah, kebahagiaan dan lain-lain. (3). Menyiapkan alat peraga atau media. Alat peraga atau media dongeng bermacam-macam, baik media visual seperti boneka, wayang, ilustrasi, pantomim, sampai eksplorasi diri dari sang pendongeng sehingga menjadi dongeng atraktif. Ada juga media audio visual, menggunakan gitar, seruling, piano, bahkan musik instrumen lain. (4). Berlatih vokal untuk memperkuat dan memperkaya vokal dialog maupun vokal ilustrasi. (5). Berlatih gerak untuk dongeng atraktif, gerakan-gerakan tubuh yang unik akan memancing imajinasi anak, dan menarik perhatian anak, sehingga dongeng tidak terlihat monoton dan membosankan.

Yuk bersama-sama mendongeng. Mendongeng itu mudah, maka luangkanlah waktu untuk mendongeng pada anak. Agar anak merasakan kebahagiaan dan kedekatan dengan orangtua, pendidik maupun pendongeng untuk anak.

(Ahmad Agus Prasojo. Aktifis dongeng design ‘kak Ojo’dan sekarang aktif berkegiatan sebagai Shadow Teacher ABK di PG&TK Budi Mulia Dua Seturan. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, 2 Oktober 2017)

https://krjogja.com/web/news/read/45426/Dongeng_untuk_Pendidikan_Karakter_Anak

Pulau Pahawang Surga untuk Snorkeling


Salah satu spot di Pulau Pahawang (Dokumen Pribadi )


Hallo Mentari…
Bagaimana kabarmu…?

Aku tebak, kabarmu baik baik saja, seperti kabarmu sebelumnya.

Mentari, kau perlu tahu, aku baru saja berkeliling sebuah pulau indah. Pulau yang sering disebut surganya snorkeling. Pulau yang sangat ramah warganya, dan tentu  menyenangkan bermalam disini. Kapan kapan kita kesana yuk… ia biar kamu sendiri yang menilai, seberapa indahnya pulau ini.


Pemandangan depan salah satu resort di Pulau Pahawang (Dokumen Pribadi)

Pahawang pulau kecil, pulau yang habis dikelilingi dalam sekali putar dengan durasi waktu 1,5 jam perjalanan dengan kendaraan motor. Warga pulau Pahawang kebanyakan pendatang, banyak bahasa yang digunakan di pulau ini, baik bahasa Lampung, bahasa Sunda, bahasa Melayu dkk. Pulau Pahawang yang beragam penduduknya, terdiri dari enam bagian/dusun yaitu: Suak Buah, Penggetahan, Jeralangan, Kalangan, Pahawang dan dusun Cukuh Nyai. Dengan jumlah penduduk kurang lebih 1719 penduduk di Pulau Pahawang. Warga di puau ini bermata pencaharian Nelayan, Tani, Peternak, Pedagang, karyawan swasta, pengrajin dan lain sebagainya.

Mentari… Pulau Pahawang memberi kesan tersendiri dalam sebuah perjalanan. Mungkin benar, bila pulau ini dibuat dari rindu. Saat aku disini, kerinduan terhadapmu membuncah, kerinduan bukan untuk diakhiri, namun, kerinduan yang akan mempertemukan kembali, denganmu.

Pasir putih, air lautan yang jernih, ombak yang tenang, ikan-ikan mengintip sesekali bergerombol dengan kawannya. Mereka berlalu lalang dibawah kapal yang bersender di dermaga. Sebuah keluarga menerima kami untuk bermalam, mereka hangat, memasakkan makan malam untuk kami, dengan cumi goreng yang segar hasil pancing sore itu. Disini sedang musim cumi, para warga senang memancing dengan kapal kecil mereka.

Bapak pemilik rumah bercerita, andai kita datang lebih awal dibulan Desember-Januari, mungkin kita akan bertemu dengan musim durian, bapak pemilik lading mempunyai lahan luas di tengah pulau, tepatnya diatas pegunungan Pulau Pahawang. Selain durian, ada Kakao dan Kelapa. Bapak juga bercerita, kalau dulunya kebanyakan warga pahawang tinggal di pulau Kelagian. Namun sejak pulau Kelagian menjadi tempat resmi untuk latihan TNI, Pulau Kelagian tidak dihuni warga kembali, mereka memilih berpindah pulau Pahawang.

Mentari, di Pulau Pahawang ada Sekolah yaitu SDN, dan SMP Terbuka. Uniknya sekolah ini tidak dibangun pemerintah, namun oleh warga negara dari Perancis, yang mempunyai resort di Pahawang, namanya Joseph Louis Spartz, atau biasa dipanggil Mr, Jo… beliau terkenal dengan kedermawanannya dan kebaikan hati membantu warga membangun fasilitas umum di Pahawang, seperti dermaga, kantor desa dan sekolah. Begitulah asiknya bila kita tinggal dirumah warga lokal. Kita akan mendapatkan banyak cerita tentang pulau ini.

Papan Sekolah SD dan SMP Pahawang. Dokumen Pribadi

Alat penguat sinyal untuk komputer Ujian Nasional SMP Satap 8 Pahawang .
Dokumen pribadi.

Pulau Pahawang mempunyai beberapa spot untuk snorkeling seperti Taman Nemo, Cukuh Bedil, Gosong bekri, Gosong Pacong, Pangetahan, Tanjung putus dan satu spot di Pahawang Kecil, namun ombak di Pahawang kecil lebih deras karna menghadap langsung kearah samudra hindia. Semuanya spesial bagi wisatawan karena semua mempunyai kelebihan masing-masing seperti taman Nemo yang berisi ikan Clown Fish. Kelebihan yang lainnya ada spot yang berisi tulisan: Taman Wisata Pahawang, Welcome in Bumi Pahawang, Welcome Taman Nemo Pahawang, Lets go Snorkeling di Pahawang, Good Meet Island Sea Pahawang dll tersebar disetiap spot snorkeling. Kalo mau free diving bias juga ketanjung putus, ada situs kapal karamnya disana.

Disini kita sempat snorkeling di taman nemo. Sebelum menceburkan diri ke laut, kita sempatkan bermain banana boat sekitar tiga kali putaran dan diakhiri dengan diceburkan kelaut. Tawa riang, kita semua bergembira. Snorklieng yang menyenangkan. “Mentari… Setiap tarikan nafas saat snorkeling, aku merasakan ketenangan.” Ketika mata ini melihat keindahan bawah laut, nafas ini bernada tenang, aku sempatkan berlama-lama didalam air, menjelajah setiap spot terumbu, melihat berbagai jenis terumbu dan ikan, semakin jauh dari spot pertama masuk air, aku menemukan lebih banyak keindahan. Tawa riang mereka yang bercanda dipinggir kapal tidak terdengar, hanya suara tarikan nafas yang terdengar, dan ia menenangkan.
Moment snorkeling memang tidak diabadikan dalam foto, namun ia akan abadi dalam ingatan, sampai kelak tua bersamamu mentari.

“Mentari…Keindahan bawah laut Pahawang itu sangat indah, dan setiap tarikan nafas kita saat snorkeling itu menenangkan. Jadi mari kita bertemu, dan nikmati keindahan bawah laut Pahawang”  


Pagi di dermaga Pulau Pahawang. Dokumen Pribadi.

Bencana Sekolah

JOJO Review 01.jpg

Judul Buku: Bencana Sekolah

Judul Asli: Please Stop Laughing at Me, OneWomen’s Inspirational Story.

Penulis : Jodee Blanco

Penerjemah: Ida Rosdalina

Editor: Adi Toha

Penerbit: Pustaka Alvabet

ISBN : 978-602-9193-31-2

Cetakan pertama: 1 Mei 2013

Isi: 322 Lembar

Buku ini terdiri dari 14 bagian yang berbeda- beda tema.  Membaca buku ini membutuhkan waktu 4 hari disela-sela mengajar saya. Dimulai dari perjuangan Jodee Blanco dalam mencari penerbit buku ini dituliskan dalam sepucuk surat untuk pembaca. Banyak penerbit yang mengatakan bahwa bullying bukan tema yang menarik, dan mereka tidak melihat audien nyatanya. Maka Jodee Blanco memutuskan menerbitkan sesuai saran temannya yaitu melalui penerbit independent. Buku ini laris manis dipasaran, lebih dari 300ribu eksemplar terjual pada seri asli yang berbahasa Inggris.

Buku ini adalah autobiografi dari Jodee Blanco. Buku yang secara khusus membahas tentang Bullying di Sekolah. Berkisah tentang pengalamannya yang dimulai sejak usia dasar sampai usia SMA. Jodee mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan karena ia mempertahankan nilai-nilai kebenaran dan kedewasaan. Contoh saat jodee diminta untuk menjauhi temannya yang ABK, atau saat di ajak untuk mengerjai nenek tua, jodee menolaknya dengan berbagai pertimbangan hati.

Jodee mempunyai mental yang bagus, walau berkali kali di jatuhkan mentalnya, berkali kali juga jodee mencoba memyelesaikan permasalahannya sendiri. Dan disini, hal terpenting adalah support dan kepercayaan yang diberikan orangtua Jodee menjadi hal yang istimewa bagi jodee. Yang jelas dalam buku ini, memberikan gambaran yang baik dan jelas. Sehingga ketika membaca, kita dapat penggambaran secara jelas. Baik penggambaran perlakuan, sikap, tempat, semuanya detail.

Buku ini mampu menguras emosi saya, baik senang, sedih, geram,dan marah tentang hal hal yang diceritakan dalam buku ini. Terimakasih sudah berani menuliskan kisah nyata ini. Mari sebagai orang dewasa, dan orang yang pernah merasakan bangku sekolah. Mari mulai mengedukasi, bahwa kita harus bersama sama meredam bullying dilingkungan masyarakat dan sekolah. Menjadi berbeda secara positif bukanlah hal yang aneh, ia dapat menjadi kekuatan dan memberi manfaat pada diri dan  orang lain.

Cilacap 17 Februari 2019

Ahmad Agus Prasojo

 

Bonjour, Mentari.

“Hati yang dewasa, ia mampu memperbaiki dirinya, mencari jalan pada sebuah kebuntuan, pada jalan ikhlas dan sabar”.

IMG_20190119_082443

Anak-Anak sedang beristirahat dengan memandang persawahan

Bonjour, Mentari.

Pagi ini aku terlalu bersemangat, semua kelas kumasuki kuajak mereka berdoa pagi, beberapa kelas yang tak ada guru, kuminta mereka menulis, tak terkecuali kelas 6, ku minta mereka mengerjakan soal kembali. Lalu aku kembali kekantor hendak mengambil pena.

“Hari ini kan kita jalan-jalan pak pras” ucap seorang guru disini.

“Oo. Ow…” ucapku sembari tersenyum.

Lalu semua kelas diajak keluar, akupun melepas sweeterku.

Kami berjalan beriringan mengikuti SD tetangga, kami melewati persawahan, sungai dan menjelajahi Dusun Larangan, ternyata tujuannya menuju embung baru, yaitu Embung Danasri Lor. Anak-anak bersemangat, sesekali mereka mengajakku berdialog, dan menunjukkan rumah anak-anak yang tinggal di dusun larangan. Sesampainya di Embung Danasri Lor, kami memutuskan untuk berjalan memutari embung, setengah perjalanan kami istirahat di pendopo kecil, kami sempatkan foto bersama. Selanjutnya anak-anak bercanda dan berkejaran sembari memutari embung menuju tempat tulisan Embung Danasri Lor.

IMG_20190119_083500

Pendopo Embung Danasri Lor.

Suasana cukup terik, anak-anak tidak membawa minun, tumbler berisi air putih kutawarkan kepada mereka yang mau, mereka sepertinya segan dan menolak dengan halus.  Sepertinya disini adabnya tidak sopan meminum milik gurunya. Sudah beberapa kali ku yakinkan mereka tetap belum mau, padahal mereka sangat tertarik untuk membawakan. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang menuju sekolah.

Kami semua istirahat sampai pukul 09.30 wib. Selanjutnya aku menawarkan peserta siaga apakah masih mau istirahat atau belajar materi siaga kembali. Mereka  meminta berlatih kembali. Kami akhirnya mengulang materi tali temali ( ada simpul jangkar, simpul pangkal, simpul mati, simpul anyam dan simpul nelayan.

Materi selanjutnya yaitu pengenalan Arah Mata Angin dan Derajatnya. Yaitu: Timur, Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat, Barat Barat Laut, Utara,  Timur Laut. Dengan derajat: 0˚, 45˚, 90˚, 135 ˚, 180 ˚, 225 ˚, 270 ˚, dan 315 ˚.